Pages

7 Jan 2015

PENGARUH KELUARGA DAN RUMAH TANGGA DALAM PERILAKU KONSUMEN

Diposting oleh bloggy Imajination di 1/07/2015 06:48:00 AM


PENGARUH KELUARGA DAN RUMAH TANGGA DALAM PERILAKU KONSUMEN

Disusun oleh :
TRI YUNI R / 17212466
Kelas : 3EA02


JURUSAN MANAJEMEN S1
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS GUNADARMA
PTA 2013/2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan makalah ini.
 Makalah ini ditulis untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Softskill Perilaku Konsumen. Ucapan terima kasih juga saya ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu penulisan makalah ini terutama kedua orang tua dan semua keluarga, serta teman sejawat atas doa dan motivasi yang diberikan.

Saya berharap dengan ditulisnya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan pembaca dapat mengetahui apa saja PENGARUH KELUARGA DAN RUMAH TANGGA DALAM PERILAKU KONSUMEN.

Saya menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari yang diharapkan. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan.



Penulis,


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen antara lain faktor kebudayaan, faktor sosial, faktor pribadi dan faktor psikologis. Dalam pembahasan kali ini akan membahas pengaruh keluarga dan kelompok dalam perilaku konsumen yang merupakan bagian dari faktor sosial.
Kelompok refrensi seseorang terdiri dari seluruh kelompok yang mempunyai pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang. Beberapa di antaranya adalah kelompok-kelompok primer, yang dengan adanya interaksi yang cukup berkesinambungan seperti keluarga, teman, tetangga dan teman sejawat. Kelompok-kelompok sekunder, yang cenderung lebih resmi dan yang mana interaksi yang terjadi kurang berkesinambungan. Kelompok yang seseorang ingin menjadi anggotanya disebut kelompok aspirasi. Sebuah kelompok yang memisahkan diri adalah sebuah kelompok yang nilai atau perilakunya tidak disukai oleh individu.
Orang umumnya sangat dipengaruhi oleh kelompok refrensi mereka pada 3 cara, pertama, kelompok refrensi memperlihatkan pada seseorang perilaku dan gaya hidup baru. Kedua, mereka juga mempengaruhi sikap dan konsep jati diri seseorang karena orang tersebut pada umumnya ingin “menyesuaikan diri”. Ketiga, mereka menciptakan tekanan untuk menyesuaikan diri yang dapat mempengaruhi pilihan produk dan merek seseorang
Kita dapat membedakan antara dua keluarga dalam kehidupan pembeli yang pertama adalah, keluarga orientasi yang merupakan orang tua seseorang. Dari orang tualah seseorang mendapatkan tentang agama, politik, ekonomi, dan merasakan ambisi pribadi nilai atau harga diri dan cinta, keluarga prokreasi¸ yaitu pasangan hidup anak-anak seorang keluarga merupakan organisasi pembeli dan konsumen yang paling penting dalam suatu masyarakat dan telah diteliti secara intensif.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Memahami kelompok referensi
2.      Selebritis dan kelompok referensi lainnya
3.      Sosialisasi dan fungsi anggota keluarga
4.      Pengambilan keputusan keluarga dalam pembelian
5.      Bagaimana bentuk Siklus hidup keluarga

1.3  Tujuan
1.      Mengetahui dan memahami kelompok referensi
2.      Mengetahui dan memahami Selebritis dan kelompok referensi lainnya
3.      Mengetahui dan memahami Sosialisasi dan fungsi anggota keluarga.
4.      Mengetahui dan memahami pengamilan keputusan keluarga dalam pembelian
5.      Mengetahui Bagaimana bentuk Siklus hidup keluarga


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 MEMAHAMI KEKUATAN KELOMPOK REFERENSI
1.      Pengertian Kelompok
          Seorang konsumen mungkin akan terlibat atau menjadi bagian dari satu atau lebih kelompok. Seorang konsumen yang bekerja sebagai manajer di salah satu perusahaan adalah anggota dari kelompok pegawai dari perusahaan tempat ia bekerja. Konsumen tersebut menjadi anggota masyarakat di komplek perumahan ia tinggal. Jika konsumen menjadi anggota sebuah klub kebugaran, maka ia menjadi bagian dari kelompok klub kebugaran tersebut. Jika ia aktif di partai politik, maka ia adalah bagian dari kelompok partai tersebut.
          Sebuah kelompok (group) merupakan kumpulan dari dua atau lebih orang-orang yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan yang sama, tujuan tersebut bisa merupakan tujuan individu atau tujuan bersama. Di dalam perspektif pemasaran, masing-masing kelompok di mana konsumen menjadi anggotanya akan mempengaruhi perilaku pembelian  dan konsumsi dari konsumen tersebut.
          Kelompok mempengaruhi proses pembelian dalam dua cara. Pertama, kelompok mempengaruhi pembelian yang dibuat oleh seorang konsumen. Kedua, anggota-anggota keompok seringkali membuat keputusan bersama-sama sebagai sebuh kelompok. Sebagai anggota kelompok dari pegawai sebuah perusahaan, konsumen tersebut akan memakai pakaian kerja sesuai dengan ketentuan dari kantornya. Sebagai anggota masyarakat, konsumen tersebut harus mengikuti semua aturan yang digariskan oleh rukun warga dimana ia tinggal. Konsumen akan sukarela membayar segala macam iuran demi tercapainya tujuan keamanan semua warga masyarakat. Sebagai anggota klub kebugaran, seorang konsumen mungkin bersama-sama dengan anggota lain memutuskan tempat liburan yang akan dikunjungi pada musim panas. Singkatnya, konsumen akan dipengaruhi oleh kelompok di mana ia menjadi anggotanya.
          Kelompok acuan (reference group) adalah seorang individu atau sekelompok orang yang secara nyata mempengaruhi perilaku seseorang. Kelompok acuan digunakan oleh seseorang sebagai dasar untuk perbandingan atau sebuah referensi dalam membentuk respons afektif dan kognitif dan perilaku. Kelompok acuan akan memberikan standar dan nilai yang akan mempengaruhi perilaku seseorang. Dalam perspektif pemasaran, kelompok acuan adalah kelompok yang berfungsi sebagai referensi bagi seseorang dalam keputusan pembelian dan konsumsi. Seorang ayah adalah kelompok acuan bagi anak-anaknya, anak-anaknya tersebut akan meminta izin ayahnya jika mereka ingin membeli sesuatu.
Kelompok acuan bagi seseorang bisa terdiri atas satu orang atau lebih dari satu sampai puluhan. Kelompok acuan bisa merupakan sesuatu yang nyata (orang sesungguhnya) atau yang bersifat tidak nyata dan bersifat simbolik (misalnya para eksekutif yang sukses atau para selebriti yang sukses : tokoh politik, aktor, olahragawan). Kelompok acuan bagi seseorang mungkin berasal dari kelas sosial yang sama atau berbeda, dan budaya yang sama atau berbeda, bahkan dari subbudaya yang berbeda atau sama.
2.      Jenis-Jenis Kelompok Acuan
A.    Kelompok Formal dan Informal
Kelompok acuan sering dibedakan ke dalam formal dan informal. Kelompok formal adalah kelompok yang memiliki struktur organisasi secara tertulis dan keanggotaan yang terdaftar secara resmi, misalnya Serikat Pekerja Indonesia, partai politik, universitas, perusahaan. Kelompok formal biasanya terdaftar secara hukum di pemerintah. Kelompok informal adalah kelompok yang tidak memiliki strukur organisasi secara tertulis dan resmi, sifat keanggotaan tidak tercatat. Kelompok formal biasanya terbentuk karena hubungan sosial, misalnya kelompok bermain badminton, kelompok senam kebugaran, kelompok arisan, kelompok rukun tetangga. Anggota kelompok informal biasanya berjumlah sedikit dan berinteraksi secara dekat dan tatap muka secara intensif dan rutin.
Kelompok primer adalah kelompokk dengan keanggotaan yang terbatas, interaksi antaranggota secara langsung tatap muka, memiliki ikatan emosional antaranggota. Anggota kelompok memiliki kesamaan dalam nilai dan sikap serta perilaku. Contoh dari kelompok primer adalah keluarga, dan kelompok yang memiliki ikatan kekerabatan. Kelompok sekunder memiliki ikatan yang lebih longgar dari kelompok primer, antaranggota kelompok mungkin juga terjadi kontak tatap muka langsung, antaranggota kelompok memiliki pengaruh kecil terhadap anggota lainnya. Contoh kelompok sekunder bisa berbentuk kelompok formal seperti asosiasi profesi, himpunan alumni atau berbentuk kelompok informal seperti kelompok arisan, kelompok rukun warga, atau teman bermain tenis.
B.     Kelompok Aspirasi dan Disosiasi
Kelompok aspirasi adalah kelompok yang memperlihatkan keinginan untuk mengikuti norma, nilai maupun perilaku dari orang lain yang dijadikan kelompok acuannya. Anggota dari kelompok aspirasi berusaha membuat asosiasi dengan orang lain yang dijadikan acuannya dengan cara bersikap dan berperilaku yang sama dengan orang tersebut. Anggota kelompok aspirasi tidak harus menjadi anggota dari kelompok acuannya, atauantaranggota kelompok aspirasi tidak harus terikat dan saling berkomunikasi. Anak-anak muda senang meniru cara berpakaian para selebriti dari Amerika. Mereka bahkan berusaha meniru perilakunya. Anak-anak muda ni disebut sebagai kelompok aspirasi, sedangkan selebriti Amerika sebagai kelompok acuannya.
Kelompok disosiasi adalah seseorang atau kelompok yang berusaha untuk menghindari asosiasi dengan kelompok acuan. Contohnya para anggota Partai Keadilan selalu menunjukkan ketertiban dalam berdemonstrasi, yang sangat berbeda dengan perilaku demo dari kelompok lainnya. Partai keadilan berusaha membuat citra yang berbeda dari kelompok lain. Partai Keadilan bisa dianggap sebagai kelompok disosiasi.

3.      Tiga Macam Pengaruh Kelompok Acuan
A.    Pengaruh Normatif
Pengaruh normatif adalah pengaruh dari kelompok acuan terhadap seseorang melalui norma-norma sosial yang harus dipatuhi dan diikuti. Pengaruh normatif akan semakin kuat terhadap seseorang untuk mengikuti kelompok acuan, jika ada tekanan kuat untuk mematuhi norm-norma yang ada, penerimaan sosial sebagai motivasi kuat serta produk dan jasa yang dibeli akan terlihat sebagai simbol dari norma sosial.
Seorang konsumen cenderung akan mengikuti apa yang dikatakan atau disarankan oleh kelompok acuan jika ada tekanan kuat untuk mengikuti norma-norma yang ada. Pengaruh semakin kuat jika ada sanksi sosial bagi konsumen yang tidak mengikuti sara dari kelompok acuan. Seorang bawahan ada kewajiban atau norma untuk meminta izin kepada atasannya, jika ia ingin melakukan sesuatu yang berkaitan degan pekerjaannya. Seorang anak akan minta persetujuan orang tuanya jika ia ingin memeli suatu produk yang berharga mahal. Jika si anak tidak melakukannya, orang tua mungkin akan memberikan sanksi sosial atau teguran bahkan hukuman kepada si anak.
Seorang konsumen mungkin memiliki motivasi kuat untuk mengikuti perilaku kelompok acuannya, karena adanya keinginan untuk diterima oleh kelompok acuan tersebut. Seorang anak berusaha belajar bagaimana bermain gitar, karena adanya keinginan untuk bisa bergabung dengan teman-temannya yang pandai bermain gitar. Si anak berusaha bisa melakukan apa yang dilakukan kelompok acuannya agar bisa diterima oleh kelompok acuannya.
Motivasi untuk mematuhi norma seringkali tidak cukup kuat untuk mempengaruhi perilaku seseorang kecuali jika produk dan jasa yang akan dibeli menggambarkan publicly conspicuous (produk yang terlihat pemakaiannya oleh orang lain, misalnya mobil, rumah, pakaian) dalam pembelian dan penggunaannya. Jika produk dan jasa yang dibeli akan terlihat oleh publik atau orang lain dalam pemakaiannya, maka konsumen akan berusaha mematuhi norma-norma yang diarahkan oleh kelompok acuan tersebut. Karena produk dan jasa yang dibeli akan menggambarkan citra diri konsumen tersebut.
B.     Pengaruh Ekspresi Nilai
Kelompok acuan akan mempengaruhi seseorang melalui fungsinya sebagai pembawa eksprsesi nilai. Seorang konsumen akan membeli kendaraan mewah dengan tujuan agar orang lain bisa memandangnya sebagai orang yang sukses atau kendaraan tersebut dapat meningkatkan citra dirinya. Konsumen tersebut merasa bahwa orang-orang yang memiliki kendaraan mewah akan dihargai dan dikagumi oleh orang lain. Konsumen memiliki pandangan bahwa orang lain menilai kesuksesan seseorang dicirikan oleh pemilikan kendaraan mewah, karena itu ia berusaha memiliki kendaraan tersebut agar bisa dipandang sebagai seseorang yang telah sukses.
C.    Pengaruh Informasi
Kelompok acuan akan mempengaruhi pilihan produk atau merek dari seorang konsumen karena kelompok acuan tersebut sangat dipercaya sarannya karena ia memiliki pengetahuan dan informasi yang lebih baik. Seorang dokter adalah kelompok acuan bagi para pasiennya. Pasien menganggap bahwa dokter memiliki pengetahuan dan inforamasi yang dipercaya, selain itu secara sosial dan peraturan dokter adalh profesi yang memiliki otoritas dalam membuat resep obat.

2.3  SELEBRITIS DAN KELOMPOK REFERENSI LAINNYA
1.      Beberapa Kelompok Acuan yang Digunakan dalam Komunikasi Pemasaran
Komunikasi pemasaran melalui iklan di berbagai media sering menggunakan orang-orang yang dianggap sebagai kelompok acuan. Para kelompok acuan tersebut adalah selebriti, pakar atau ahli, orang-orang biasa, para eksekutif perusahaan atau pegawai biasa dan karakter dagang (trade and spokes-character). Di antara kelompok acuan tersebut, para selebriti adalah yang paling sering dipakai perusahaan untuk mengiklankan berbagai produk dan jasa. Para selebriti bisa memiliki pengaruh yang kuat kepada konsumen dalam pembelian produk dan jasa serta pemilihan merek. Pengaruh tersebut bisa berbentuk adanya keinginan konsumen untuk mengasosiasikan dirinya dengan para selebriti. Asosiasi atau identifikasi bisa berdasarkan rasa kagum, keinginan untuk mengikuti jejak atau gaya hidup selebriti dan pengahargaan. Ketika konsumen menggunakan merek seperti yang diiklankan oleh selebriti, konsumen akan berkata “Jika ia memakai merek tersebut, berarti merek tersebut baik. Jika saya memekainya, maka saya akan seperti dia”. Selebriti
          Kelompok selebriti adalah para artis film, sinetron, penyanyi, musisi, pelawak dan semua orang-orang terkenal yang bergerak di bidang hiburan. Para selebriti bisa juga para pemain olahraga yang terkenal, tokoh politik, para pejabat pemerintah, para pakar pengamat ekonomi, sosial dan politik. Yang paling banyak digunakan sebagai bintang iklan adalah para artis film, sinetron dan pembawa acara berbagai acara televisi.
          Dalam mempromosikan suatu produk, selebriti bisa berfungsi untuk :
1.     Memberikan kesaksian (a testimonial)
2.     Memberikan dorongan dan penguatan (Endorsment)
3.     Bertindak sebagai aktor dalam iklan
4.     Bertindak sebagai jasa bicara perusahaan
Selebriti akan memberikan manfaat kepada perusahaan karena selebriti memiliki popularitas, bakat, karisma dan kredibilitas. Dari keempat unsur tersebut, maka kredibilitas adalah yang paling penting bagi konsumen. Kredibilitas selebriti menggambarkan persepsi konsumen terhadap keahlian dan pengetahuan selebriti mengenai produk yang diiklankan dan kepercayaan selebriti (kejujuran selebriti mengenai produk yang diiklankan). Konsumen adalah orang yang cerdas, mereka memahami bahwa selebriti hanya berfungsi sebafai aktor iklan yang dibayar mahal, sehingga kredibilitasnya diragukan. Kredibilitas selebriti semakin diragukan ketika seorang selebriti beriklan untuk banyak merek produk.

2.    Beberapa Kelompok Acuan yang Terkait dengan Konsumen
A.     Kelompok Persahabatan (Friendship Groups)
Konsumen membutuhkan teman dan sahabat sesamanya. Memiliki teman atau sahabat merupakan naluri dari konsumen sebagai makhluk sosial. Teman dan sahabat bagi seorang konsumen akan memenuhi beberapa kebutuhan konsumen diantaranya kebutuhan akan kebersamaan, kebutuhan rasa aman, kebutuhan untuk mendiskusikan berbagai masalah ketika konsumen merasa enggan untuk membicarakannya dengan orang tua atau saudara kandung. Konsumen yang memiliki teman adalah tanda bahwa ia telah membina hubungan sosial dengan dunia luar. Pendapat dan kesukaan teman seringkali mempengaruhi pengambilan keputusan konsumen dalam membeli dan memilih produk dan merek. Kelompok persahabatan adalah kelompok informasi dan mungkin bisa berbentuk kelompok primer atau sekunder.
Para pemasar telah memahami bagaimana pentingnya pengaruh kelompok persahabatan (peer group atau friendship group) terhadap konsumen. Para penjual jasa asuransi sering menggunakan konsep persahabatan dalam menjual jasa tersebut. Para penjual menjelaskan berbagai manfaat dari jasa asuransi yang ditawarkan kepada konsumen, kemudian tidak lupa ia mengatakan bahwa Bapak A, Bapak B, Bapak C telah ikut kepada program kami. Penjual mengetahui benar bahwa nama-nama yang disebutkan adalah orang-orang yang telah dikenal atau teman dan konsumen tersebut. Para penjual mengharapkan bahwa teman-teman yang telah ikut program asuransi akan memperkuat argumentasi pentingnya asuransi dan mempengaruhi keputusan konsumen.
B.     Kelompok Belanja (Shopping Groups)
Kelompok belanja adalah dua atau lebih orang konsumen yang berbelanja bersama pada waktu yang sama. Kelompok belanja bisa merupakan kelompok persahabatan atau keluarga, namun bisa juga orang lain yang bertemu di toko untuk membeli produk bersama. Ketika konsumen datang ke toko mungkin sendiri, tetapi berjumpa orang lain di toko yang sama. Konsumen secara tidak sengaja akan bertanya kepada konsumen  ng baru dikenalnya mengenai produk atau jasa yang akan dibelinya. Jika beruntung, konsumen tersebut mungkin banyak memberikan informasi yang diketahuinya mengenai produk dan merek. Informasi tersebut sering memberkan input penting bagi seseorang dalam mengambil keputusan. Informasi tersebut akan mengurangi rasa khawatir akan risiko salah dalam membeli produk.
Seorang konsumen sering membawa teman atau saudara ketika berbelanja. Tujuan membawa teman bisa bermacam-macam. Pertama adalah tujuan sosial, yaitu untuk menikmati kebersmaan dengan saudara atau teman. Kedua adalah untuk mengurangi risiko salah dalam membeli produk. Konsumen akan membawa teman atau saudara yang telah mengetahui produk tersebut. Konsumen yang akan membeli komputer, akan membawa teman atau saudara yang memahami seluk beluk komputer. Teman dan saudara itulah yang akan memberikan saran dan pengaruh dalam pembelian produk.
C.       Kelompok Kerja (Work Groups)
         Konsumen yang telah bekerja akan menghabiskan waktunya 35-40 jam di tempat kerja. Ia akan berinteraksi dengan teman-teman sekerjanya baik dalam tim kecil maupun teman kerja lainnya dari bagian lain. Interaksi yang sering dan intensif memungkinkan teman-teman sebagai kelompok kerja mempengaruhi perilaku konsumsi dan pengambilan keputusan konsumen dalam membeli produk dan jasa dan pemilihan merek. Kelompok kerja bisa berbentuk kelompok kerja formal, jika kelompok kerja tersebut bekerja sebagai satu tim yang dibentuk oleh perusahaan. Kelompok kerja bisa juga berbentuk informal, jika kelompok kerja tersebut terdiri atas orang-orang yang bekerja di perusahaan yang sama. Kelompok kerja informal akan saling bertemu saat makan siang, kegiatan sosial atau pulang bersama. Kedua kelompok kerja tersebut akan mempengaruhi konsumen dalam memilih merek dan produk yang akan dibelinya.
D.    Kelompok atau Masyarakat Maya (Virtual Groups or Communities)
         Berbagai kelompok yang telah dibahas sebelumnya menggambarkan kelompok yang dibatasi oleh geografik dan waktu, yaitu kelompok yang bertemu dan berkomunikasi lisan pada tuang dan waktu yang telah ditentukan. Perkembangan teknologi komputer dan internet telah melahirkan suatu kelompok atau masyarakat baru yang disebut kelompok atau masyarakat maya, yang tidak dibatasi oleh batas kota, provinsi atau negara bahkan tidak dibatasi oleh waktu.
         Melalui internet dan e-mail seorang konsumen yang masih belajar di sekolah dasar sekarang bisa mencari teman dari kota lain bahkan dari negara lain, ia bisa berhubungan dengan teman sebayanya dari berbagai belahan dunia tersebut, kapan saja ia mau. Seorang konsumen bisa membuk internet dan bergabung dengan masyarakat internet, ia memiliki akses yang luas untuk mencari masyarakat internet yang sesuai dengan kebutuhannya kemudian bergabung dengan masyarakat tersebut.
E.        Kelompok Pegiat Komsumen (Consumer Action Groups)
         Konsumen yang kecewa dalam pembelian produk dan jasa, akan melakukan beberapa tindakan, yaitu :
a.       Diam dan kesal dan menyampaikan kekecewaannya kepada teman
b.      Berkirim surat ke tempat pembelian atau mendatangi toko untuk mengeluh dan minta ganti rugi
c.       Berkirim surat dan mengeluh kepada surat kabar atau majalah, atau mengadu ke lembaga perlindungan konsumen
          Apapun yang dilakukan konsumen ketika kecewa terhadap produk adalah gambaran tindakan protes dari konsumen. Konsumen memerlukan kelompok yang bisa membantunya ketika dirugikan oleh produsen. Perlindungan konsumen semakin dipentingkan dan diperhatikan ketika telah diundangkan Undang-Undang Perlindungan Konsumen No. 8 Tahun 1999.
      Untuk melindungi kepentingan konsumen, pemerintah mengakui adanya lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang diharapkan aktif dalam mewujudkan perlindungan konsumen. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) adalah lembaga swadaya tertua di Indonesia yang telah aktif melindungi kepentingan konsumen. Lembaga ini telah berperan penting dalam mempengaruhi keputusan konsumen, bahkan aktif memberikan masukan kepada lembaga pemerintah maupun swasta. Perusahaan swasta dan pemerintah sering melibatkan YLKI dalam berbagai hal yang berkaitan dengan kenaikan harga maupun tarif barang dan jasa. Ini merupakan langkah yang baik dari pemerintah dan swasta dalam melindungi kepentingan konsumen, karena YLKI didengar pendapatnya terlebih dahulu. YLKI bisa dianggap sebagai lembaga yang secara tidak langsung memiliki kepentingan konsumen.

        2.4 SOSIALISASI DAN FUNGSI ANGGOTA KELUARGA
1.      Sosialisasi Anak Sebagai Konsumen
Keluarga merupakan lingkungan yang paling dekat bagi semua anggota keluarga. Keluarga memiliki fungsi utama untuk mengembangkan kualitas sumber daya manusia bagi semua anggotanya terutama anak-anak, termasuk di dalamnya adalah fungsi untuk menjadikan anak sebagai seorang konsumen. Fungsi- fungsi keluarga yang berjalan baik merupaka prasyarat penting untuk tercapainya kesejahteraan seluruh anggota keluarga. Undang-undang No.10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembnagunan Keluarga Sejahtera.
Telah memberikan landasan bahwa keluarga harus mampu menjalakan delapan fungsi, yaitu sebagai berikut :
1.    Fungsi keagamaan, yaitu untuk mendorong dan mengembangkan anggotanya agar kehidupan keluarga menjadi wahana persemaian nilai-nilai luhur budaya bangsa untuk menjadi insan-insan agamis yang penuh imam dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2.    Fungsi sosial budaya, memberikan kesempatan kepada keluarga dan seluruh anggotanya untuk mengembangkan kekayaan budaya bangsa yang beraneka ragam dalam satu kesatuan.
3.    Fungsi cinta kasih, memberikan landasan yang kokoh terhadap hubungan anak dengan anak, suami dengan istri, orang tua  dengan anaknya, serta hubungan kekerabatan antargenerasi sehingga keluarga menjadi wadah utama bersemainya kehidupan yang penuh cinta kasih lahir dan batin.
4.    Fungsi melindungi, yaitu keluarga berkewajiban untuk melindungi seluruh anggotanya sehingga memperoleh rasa aman secara fisik dan psikis.
5.    Fungsi sosialisasi dan pendidikan, memberikan pesan kepada keluarga untuk mendidik keturunan agar bisa melakukan penyesuaian dengan kehidupan dimasa depan. Keluarga wajib memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya sehingga mereka memeliki pengetahuan, keterampilan dan keahlian yang bermanfaat baginya sebagai kerja masa depan.
6.    Fungsi reproduksi yang merupakan mekanisme untuk melanjutkan keturunan yang direncanakan dapat menunjang terciptanya kesejahteraan manusia.
7.    Fungsi ekonomi, yaitu fungsi keluarga untuk menyediakan kebutuhan fisik yang cukup dan memadai bagi semua anggota keluarga. Keluarga berkewajiban menyediakan makan, minuman, pakaian, rumah, pemeliharaan kesehatan, pendidikan yang baik bagi semua anggotanya. Kebutuhan tersebut bisa diperoleh jika keluarga memperoleh pendapatan dari hasil bekerja. Karena itu orang tua wajib untuk mencari nafkah untuk menghadapi semua anggotanya.
8.    Fungsi pembinaan lingkungan memberikan pada setiap keluarga kemampuan menempatkan diri secara serasi, selaras dan seimbang sesuai daya dukung alam dan lingkungan yang berubah secara dinamis.

Sejak lahir ke dunia, seorang anak telah menjadi konsumen, walaupun ia tidak mengambil keputusan tentang apa yang dibeli. Semakin tua usia anak, maka ia harus dipersipkan oleh keluarganya untuk menjadi seorang konsumen yang bisa mengambil keputusan.Beberapa fungsi keluarga yang erat kaitannya dengan sosialisasi anak sebagai konsumen adalah fungsi ekonomi, fungsi cinta kasih dan fungsi sosialisasi dan pendidikan.Fungsi cinta kasih akan memberikan dukungan emosi kepada anak-anak melalui kasih sayang, kehangatan orang tua kepada anak.Orang tua memberikan jalan keluar bagi anak-anaknya yang menghjadapi masalah orang tua membantu anak-anaknya dalam mengambil keputusan
Schiffman Kanuk (2000)menyebutkan satu fungsi lainnya yang sangat penting dalam kaitannya fungsi keluarga dan perilaku konsumen, yaitu fungsi gaya hidup yang sesuai bagi anggota keluarganya.Fungsi gaya hidup menggambarkan kegiatan-kegiatan keluarga yang sebaiknya dilakukan untuk pembinaan anak sebagai konsumen yang baik.Keluarga bisa melakukan makan bersama diluar rumah, rekreasi secara rutin ,berolah raga bersama.Orang tua juga bisa mengajak anak-anaknya nonton bersama baik dirumah maupun teater.Kebersamaan yang diciptakan akan memberikan lingkungan yang baik bagi anak-anak.Pada kesempatan tersebut , orang tua bisa memperkenalkan kepada anaknya bagaimana memilih barang, menawar harga, dan sebagainya
Sosialisasi adalah proses bagaimana seseorang memperoleh pengetahuan, keahlian, dan hubungan social yang menyebabkan ia mampu berpartisipasi sebagai anggota masyarakat. Arti sosialisasi dalam buku ini akan difokuskan kepada sosialisasi anak sebagai konsumen (childhood consumer socialitation atau consumer socialitation of children)
Sosialisasi anak sebagi konsumen diartikan sebagai proses di mana seorang anak memperoleh pengetahuan dan keterampilan , dan sikap yang relevan dengan fungsinya sebagai konsumen di pasar.Proses soslialisasi tersebut juga diartikan sebagai proses bagaimana seorang anak memperoleh pengetahuan tentang barang dan jasa serta pengetahuan konsumsi , dan pencarian informasi dan keterampilan untuk menawar barang dan  jasa.
Pergi berbelanja bersama anak-anak merupakan salah satu contoh sosialisasi anak sebagai konsumen.Si anak akan memperhatikan bagaimana orang tuanya memilih barang. Mengambilnya, meletakkannya di tempat dorongan, dan membawanya ke kasir dan kemudian membayarnya.Orang tua pun secara langsung mengajarkan kepada anak-anaknya untuk membayar terlebih dahulu sebelum membuka kemasan barang atau mencicipi makanan yang dibelinya.
Dengan membawa anak-anak ke supermarket atau pusat perbelanjaan, secara langsung orang tua membawa mereka ke dunia nyata bagaimana proses transaksi produk dan jasa dilakukan oleh konsumen.Anak-anak diajarkan bagaimana produk dan jasa dilakukan oleh konsumen.Anak-anak diajarkan bagaimana produk dan jasa ditawarkan dan dikomunikasikan kepada konsumen.Anak-anak pun akan melihat beragam barang , yang semuanya akan menarik mereka.Namun, anak-anak diajarkan untuk memilih dan membeli sesuai kebutuhannya.Inilah yang disebut sebagai proses sosialisasi anaka sebagai konsumen
Memahami bagaimana proses sosialisasi anak sebagai konsumen adalah sangat penting bagi para pemasar.Jika para pemasar mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi proses sosialisasi tersebut, maka pemasar bisa merancang strategi pemasar yang bisa mempengaruhi faktor-faktor tersebut. Misalnya, anak-anak akan senang menonton film-film kartun, maka pemasar akan memperkenalkan produk kepada anak-anak pada saat penayangan film kartun yang disenangi anak-anak tersebut.Pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan untuk melindungi anak sebagai konsumen jika diketahui kegiatan pemasaran suatu produk dianggap akan mengeksploitasi anak sebagi konsumen.
Schiffman dan Kanuk (2000) mengemukakan suatu model sosialisasi anak sebagai konsumen seperti diperlihatkan pada gambar dibawah.Seoraang anak akan memperoleh sosialisasi dari anggota keluarga lain seperti ayah, ibu, saudara kandung, dan saudara lainnya. Anak pun akan menerima sosialisasi dari teman-temannya.Panah dua arah dari anak ke anggota keluarga, dan dari angggota keluarga ke anak menunjukan bahwa sosialisasi berjalan dua arah. Seorang anak akan menerima sosialisasi dari anggota keluarga lain, dan anak pun akan mempengaruhi orang memberikan sosialsi tersebut.Demikian pula, si anak akan mempengaruhi teman-temannya, dan mereka pun akan mempengaruhi si anak dalam pembelian produk dan jasa, dan pemiliham merek maupun selera terhadap suatu produk dan jasa
Model sosialisasi lainnya di kemukakan oleh Mowen dan Minor (1998) seperti yang diperlihatkan oleh gambar dibawah ini.Menurut model tersebut sosialisasi kemsumen terdiri atas tiga unsur utama, yaitu factor latar belakang, yang melakukan sosialisasi, dan proses belajar.Faktor latar belakang adalah karakteristik konsumen seperti status social ekonomi, jenis kelamin, usia,kelas social, dan agama yang dianutnya.Yang melakukan sosialisasi adalah seseorang yang secara langsung berhubungan dengan konsumen dan memiliki pengaruh terhadap konsumen tersebut.Yang melakukan sosialisasi bisa orang tua konsumen, saudara kandung ,kerabat, teman-teman,guru,media masa,atau orang-orang media seperti selebriti,penyanyi, artis,atlit atau tokoh-tokoh ternama lainnya.Yang melakukan sosialisasi tersebut selanjutnya akan mempengaruhi proses belajar konsumen melalui proses belajar modeling , proses belajar penguatan, dan proses belajar kognitif.Hasil akhir dari proses sosialisasi konsumen yang telah tersosialisasi.

Peter dan Olson (1999) mengemukakan beberapa pertanyaan yang harus dipahami agar bisa menyusun strategi pemasaran produk yang dibeli oleh keluarga. Yaitu sebagai berikut :
1.    Apakah produk dibeli untuk digunakan seorang anggota keluarga atau digunakan bersama oleh semua anggota keluarga ?
2.    Apakah produk dibeli oleh dana seorang anggota keluarga atau oleh dana keluarga ?
3.    Apakah harga produk sangat mahal sehingga keluarga harus mengorbankan untuk tidak membeli produk lain ?
4.    Apakah anggota keluarga cenderung tidak setuju  dengan nilai produk tersebut,jika ya, apa yang perlu dilakukan untuk mengurangi konflik ?
5.    Apakah produk cenderung digunakan oleh lebih dari satu anggota keluarga?jika ya, apakah perlu memodifikasi produk agar sesuai untuk orang-orang yang berbeda ?
6.    Siapa anggota keluarga yang mempengaruhi pembelian, media apa dan pesan apa yang dipakai untuk membujuk mereka ?
7.    Apakah ada toko-toko tertentu yang lebih disukai oleh berbagai anggota keluarga atau berbagai keluarga pada pasar yang akan dituju ?

Jawaban-jawaban terhadap pertanyaan tersebut akan berpengaruh terhadap penyusunan strategi pemasaran suatu produk atau jasa. Anak-anak usia remaja akan memiliki pengaruh besar kepada orang tuanya mengenai model dan jenis pakaian dan  sepatu yang akan dipakainya, walaupun yang mengambil keputusan adalah orang tua mereka. Para pemasar sebaiknya mengarahkan promosi dan komunikasi pemasaraanya kepada anak-anak remaja tersebut, karena peranan mereka yang besar pengaruhnya terhadap orang tua mereka.

2.5 PERANAN SUAMI DAN ISTRI DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN KELUARGA
Para peneliti konsumen sangat tertarik untuk mempelajari bagaimana keluarga mengambil keputusan,terutama peran yang dimainkan oleh suami dan istri  dalam pengambilan keputusan.suami dan istri merupakan dua figur anggota keluarga yang sangat penting dan dominan diantara anggota keluarga lain (anak-anaknya) sebuah keluarga yang telah hidup bersama bertahun-tahun tentu telah membeli beratus-ratus produk dan jasa. Mereka telah mengambil keputusan berulang kali dalam membeli suatu produk dan jasa. Mereka telah memiliki pola pengambialan keputusan. Beberapa studi mengidentifikasi model pengambilan keputusan produk sebuah keluarga, yaitu sebagai berikut :
1.     Istri dominan dalam mengambil keputusan. Istri memiliki wewenang untuk memutuskan produk dan merek apa yang dibeli umtuk dirinya dan untuk anggota keluarganya.
2.     Suami dominan dalam mengambil keputusan. Suami memiliki kewenangan untuk memutuskan produk dan merek apa yang dibeli untuk dirinya atau anggota keluarganya.
3.     Keputusan autonomi. Keputusan yang bisa dilakukan oleh istri atau suami, yang bisa dilakukan tanpa tergantung dari salah satunya. Si istri bisa memutuskan pembelian produk tanpa harus bertanya kepada suami begitu pula sebaliknya.misalnya, lampu neon mati dan harus diganti. Istri bisa langsung membeli produk penggantinya tanpa harus meminta persetujuan suami.
4.     Keputusan berasama. Keputusan untuk membeli produk atau jasa dilakukan bersama antara suami dan istri. Keputusan untuk membeli produk atau jasa yang berharga mahal biasanya dilakukan bersama. Memilih sekolah anak biasanya dilakukan bersama antara suami dan istri.

2.6  PENGAMBILAN KEPUTUSAN KELUARGA DALAM PEMBELIAN
1.      Peranan anggota keluarga dalam pengambilan keputusan pembelian
          Anggota keluarga saling mempengaruhi dalam kepeutusan pembelian dan konsumsi suatu produk.masing-masing anggota keluarga memiliki peran dalam pengambilan keputusan.seorang anggota keluarga mungkin memiliki lebih dari satu peran.berikut diuraikan beberapa peran anggota keluarga dalam pengambilan keputusan, yaitu sebagai berikut :
1.    Inisiator (initiator), seorang anggota keluarga yang memiliki idea tau gagasan untuk membe mereka tidak li atau mengkonsumsi suatu produk, ia akan memberikan informasi kepada anggota keluarga lain untuk dipertimbangkan dan untuk memudahkan mengambil keputusan.
2.    Pemberi pengaruh (influencer), seorang anggota keluarga yang selalu diminta pendapatnya mengenai suatu produk atau merek yang akan dibeli dan dikonsumsi,ia diminta pendapatnya mengenai criteria dan atribut produk yang sebaiknya dibeli.
3.    Penyaring informasi (gatekeeper), seorang anggota keluarga yang menyaring semua informasi yang masuk ke dalam keluarga tersebut,seorang ibu mungkin tidak akan menceritakan mainan mainan baru yang ada ditoko kepada anak- anaknya,agar mereka tidak akan menjadi konsumtif,seorang ayah mungkin tidak akan menceritakan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya kepada semua anggota keluarganya,agar mereka tidak menjadi tertekan.
4.    Pengambil keputusan (decider), seorang anggota keluarga yang memiliki wewenang  untuk memutuskan apakah membeli suatu produk atau suatu merek.ibu biasanya memiliki wewenang untuk memutuskan mengenai makanan apa yang baik bagi keluarga,dan menu apa yang disajikan sehari – hari.seorang ibu mungkin akan meminta ijin kepada bapak untuk member barang-barang yang berharga mahal,atau keduanya mengambil keputusan bersama.
5.    Pembeli (buyer),seorang anggota keluarga yang membeli suatu produk,atau yang diberi tugas untuk melakukan pembelian produk.ibu mungkin akan menyuruh anaknya untuk membeli beras yang sudah habis,atau menyuruh pembantu rumah tangganya untuk berbelanja setiap hari.
6.    Pengguna (user), seorang anggota keluarga yang menggunakan atau mengkonsumsi suatu produk atau jasa.sebuah produk mungkin akan dikonsumi oleh semua anggota keluarga,misalnya nasi.akan tetapi,beberapa produk mungkin hanya dikonsumsi oleh anggota keluarganya yang berusia muda saja ,misalnya susu bayi atau diaper.
Para pemasar perlu memahami bagaimana peran anggota keluarga dalam pengambilan keputusan suatu produk,produk=produk mainan dipakai oleh anak-anak,dan mereka mempengaruhi orang tuanya.namun,pembeli dan pengambil keputusan pembelian produk mainan tersebut adalah ayah,ibu,atau keduanya.memahami siapa yang berperan dalam pengambilan keputusan suatu produk sangat bermanfaat dalam menyusun strategi pemasaran untuk menentukan target pasar dari produk tersebut.para produsen minyak goreng selalu menampilkan ibu dalam iklan-iklan produknya.karena ibu dianggap sebagai anggota keluarga yang mengambil keputusan mengenai jenis dan merek minyak goreng yang akan dipakainya.dapat kita lihat iklan kartu kredit BNI yang membawa pesan keluarga,bahwa kartu kreditnya merupakan pilihan keluarga,yang secara implisit menyatakan bahwa kartu kredit BNI diposisikan sebagai kartu kredit keluarga.  

        2.6 SIKLUS HIDUP KELUARGA
Siklus hidup keluarga menggambarkan tahap-tahap yang dijalani oleh sebuah keluarga dengan semakin meningkatkan usia anggota keluarga. Siklus hidup keluarga dimulai dengan masa lajang (bujangan), menikah, memiliki anak, membesarkan anak, anak-anak pindah, orang tua sendiri tanpa anak, pasangan tua. Memahami siklus hidup keluarga juga membawa implikasi penting bagi starategi pemasaran produk dan jasa. Setiap tahap keluarga akan menggambarkan kebutuhan yang berbeda, sehingga keluarga pun akan membutuhkan produk dan jasa yang berbeda. kelahiran anak akan menyebabkan keluarga memiliki pola belanja dan konsumsi yang berbeda dibandingkan ketika belum memiliki anak. Pasangan yang memiliki anak balita akan membeli susu bayi, diaper, semua produk perawatan bayi. Keluarga pun mungkin akan membutuhkan jasa pengasuh untuk anaknya.
Tahap siklus keluarga nomor satu sampai nomor tujuh adalah bentuk keluarga tradisional yang umun dijumpai disemua negara, sedangkan tahap keluarga nomor delapan sampai sebelas menggambarkan bentuk keluarga yang bukan jumlahnya mungkin jauh lebih kecil dari keluarga tradisional. Seorang bujangan umumnya akan menikah, dan pasangan yang menikah umumnya ingin segera memiliki anak, membesarkannya, menyekolahkannya, kemudian anak-anaknya akan hidup mandiri dan meninggalkan orang tuanya. Inilah gambaran keluarga tradisional. Akan tetai, di dalam masyarakat akan dujumpai bentuk-bentuk keluarga lainnya, misalnya keluarga tanpa anak . mereka tidak memiliki anak karena alasan kesehatan atau alasan lainnya. Mereka tidak memiliki anak bukan karena atas kehendaknya, karena meraka telah berusaha untuk mendapatkannya.
Dinegara-negara maju, dijumpai pasangan-pasangan menikah yang tidak memiliki anak karena atas kehendaknya, mereka memutuskan untuk tidak memiliki anak karena alasan karier. Inilah yang sebut sebagai voluntarily childless couple. Karena berbagai sebab, banyak suami dan istri yang bercerai. Perceraian menyebabkan salah seorang suami atau istri harus tinggal bersama anak-anaknya. Inilah yang disebut sebagai keluarga orang tua tunggal.

SIKLUS KEHIDUPAN KELUARGA DAN PERILAKU PEMBELIAN
Keluarga berubah bersama waktu,  melewati serangkaian tahap. Proses ini disebut siklus kehidupan keluarga (SKK).
1.     Tahap Single
Walaupun pendapatan relatif rendah, mereka menjadi sasaran dari sedikit permintaan yang kaku, maka konsumen di dalam tahap ini umumnya memiliki pendapatan bebas yang besar. Sebagian dari pendapatan ini digunakan untuk membeli mobil dan peralatan dasar serta peralatan untuk tempat tinggal mereka yang pertama jauh dari rumah --- biasanya sebuah apartemen. Mereka cenderung lebih mengikuti mode dan berorientasi pada rekreasi, menghabiskan sebagian besar pendapatan mereka untuk busana, minuman keras, makanan diluar rumah, liburan, pengejaran waktu senggang dan produk serta jasa lain yang terlibat dalam permainan perkawinan.
2.     Pasangan yang baru menikah
Pasangan yang baru menikah dan tanpa anak biasanya lebih kaya secara financial daripada sebelumnya dan pada masa dating yang tidak terlalu lama lagi karena istri biasanya bekerja. Keluarga pada tahap ini juga membelanjakan sebagian besar dari pendaptan mereka untuk mobil, busana, liburan, dan kegiatan waktu senggang lain. Mereka juga mempunyai angka pembelian yang tinggi dan pembelian rata-rata tertinggi untuk barang yang tahan lama, khususnya perabot dan peralatan rumah tangga dan barang mahal lain, dan tampaknya lebih rentan terhdapa iklan didalam tahap ini.
3.     Sarang lengkap I (Full nest I)
Dengan adanya anak pertama, beberapa istri berhenti bekerja diluar rumah, dan sebagai akibat pendapatan keluarga menurun. Pada saat yang sama, anak kecil menimbulkan masalah baru yang mengubah cara keluarga membelanjakan pendpatannya. Dua pasangan tersebut mungkin pindah rumha pertama mereka, membeli perabot dan perlengkapan untuk anak mereka, membeli mesin cuci, alat pengering dan barang pemeliharaan rumah, dan membeli produk seperti makanan bayi, obat gosok, obat batuk, vitamin, mainan, mobil, kereta luncur, dan sepatu luncur. Kebutuhan ini mengurang tabungan keluarga dan suami serta istri kerap merasa tidak puas dengan posisi keuangan mereka.
4.     Sarang lengkap II (Full Nest II)
Pada tahap ini, anak terkecil berusia 6 tahun atau lebih, pendapatan suami membaik, dan istri kembali bekerja dirumah. Akibatnya, posisi keuangan keluarga biasanya meningkat. Pola kosumsi terus sangat dipengaruhi oleh anak-anak mereka karena keluarga cendrung membeli makanan dan supply untuk kebersihan dalam kemasan berukuran lebih besar, sepeda, piano, dan pelajaran music.
5.     Sarang lengkap III (Full Nest III)
Sementara keluarga bertambah tua, posisi keuangannya biasanya terus membaik karena penddaptan suami bertambah, istri kembali bekerja atau mendapat gaji lebih tinggi dan anak-anak mendapatkan uang dari kerja sambilan. Keluarga umumnya mengganti beberapa bagian perabot, membeli satu mobil lagi, membeli beberapa peralatan mewah, dan membelanjakan banyak uang untuk pelayanan perawatan gigi dan untuk pendidikan anak-anak.
6.     Sarang Kosong I (Empty Nest I)
Pada tahap ini keluarga paling puas dengan posisi keuangan mereka dan jumlah uang yang ditabung karena pendapatan terus bertambah dan anak-anak suddah meninggalkan rumah dan tidak lagi bergantung kepada orang tua mereka dalam hal keuangan. Pasangan tersebut kerap membuat perbaikan rumah, membeli barang mewah dan membelanjakan proporsi yang lebih besar dari pendapatan mereka untuk liburan, perjalana dan rekreasi.
7.     Sarang Kosong II (Empty Nest II)
Pada waktu ini, kepala rumah tangga sudah pension sehingga pasangan tersebut biasanya menderita penurunan nyata dalam pendapatan. Pengeluaran menjadi lebih berorientasi pada kesehatan, berpusat pada barang-barang seperti peralatan kedokteran, produk perawatan medis yang membantu kesehatan tidur dan pencernaan dan barang kali rumah yang lebih kecil, apartemen atau kondominium di daerah yang beriklim lebih ramah.
8.     Orang yang Bertahan Sendiri (Solitary Survivor)
Bila masih bekerja, orang yang bertahan ini masih menikmati pendapatan yang besar. Mereka mungkin menjual rumah mereka, biasanya membelanjakan uang lebih banyak untuk liburan, rekreasi dan jenis produk seperti jasa berorientasi kesehatan seperti disebutkan di atas.
9.     Orang yang Bertahan Sendiri dan Sudah Pensiun (Retired Solitary Survivor)
Orang yang bertahan sendiri dan sudah pension mengikuti pola konsumsi umum yang sama kecuali pada skala yang lebih rendah karena penurunan pendapatan. Selain itu, individu ini mempunyai kebutuhan khusus akan perhatian, kasih saying dan keamanan.



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Perilaku konsumen dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kelompok sosial maupun keluarga. Sosialisasi adalah proses bagaimana seseorang memperoleh pengetahuan, keahlian, dan hubungan social yang menyebabkan ia mampu berpartisipasi sebagai anggota masyarakat. Kelompok acuan (reference group) merupakan seorang individu atau sekelompok orang yang secara nyata mempengaruhi perilaku seseorang. Kelompok acuan digunakan oleh seseorang sebagai dasar untuk perbandingan atau sebuah referensi dalam membentuk respons afektif dan kognitif dan perilaku. Kelompok acuan akan memberikan standar dan nilai yang akan mempengaruhi perilaku seseorang. Dalam perspektif pemasaran, kelompok acuan adalah kelompok yang berfungsi sebagai referensi bagi seseorang dalam keputusan pembelian dan konsumsi.
Keluarga didefinisikan sebagai sebuah kelompok yang terdiri atas dua orang atau lebih yang terikat oleh perkawinan, darah (keturunan: anak atau cucu) atau adopsi yang biasanya tinggal bersama dalam satu rumah. Yang membedakan keluarga dengan kelompok lain adalah keluarga terbentuk oleh pernikahan atau kelahiran, memiliki hubungan yang permanent dan emosional, berorientasi pada hubungan antar pribadidan bukan pada suatu tujuan tertentu seperti halnya organisasi.




DAFTAR PUSTAKA
Sumarwan, Dr. Ir. Ujang, M.Sc. 2002. Perilaku Konsumen Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran. Penerbit Ghalia Indonesia.
John C. Mowel dan Michael Minor. 2002. Perilaku Konsumen. Edisi 5. Penerbit Erlangga.
Nugroho J. Setiadi, SE., MM. 2003. Perilaku Konsumen dan Implikasi untuk Strategi dan Penelitian Pemasaran. Penerbit Kencana.

1 komentar:

Marda Ridhovin mengatakan...

Hal semacam ini memang sangat perlu diperhatikan terhadap kepuasan konsumen

Posting Komentar

 

BLOGY IMAJINATIONS Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review