Pages

8 Apr 2015

PENALARAN, SILOGISME DAN ENTIMEN

Diposting oleh bloggy Imajination di 4/08/2015 09:45:00 AM
PENALARAN, SILOGISME DAN ENTIMEN
       A.    Definisi Penalaran
Menurut Glass dan Holyoak (Jacob, 1997, h. 29) bahwa penalaran meliputi berbagai simpulan pengetahuan mutahir dan keyakinan. Penalaran, pengambilan keputusan dan pemecahan masalah merupakan proses kognitif yang saling berhubungan. Pengambilan keputusan meliputi usaha untuk mencapai setiap variasi dari berbagai tipe tujuan. Dengan demikian, penalaran jelas meliputi pengambilan keputusan, sedangkan penalaran dan pengambilan keputusan diperlukan untuk menyelesaikan masalah. Sehingga, pengambilan keputusan berarti menaksir dan memilih di antara beberapa alternatif yang tersedia.
Penalaran adalah bentuk khusus dari berpikir dalam upaya pengambilan inferensi dan konklusi yang digambarkan oleh premis. Setiap penalaran adalah berpikir, tetapi tidak semua berpikir adalah penalaran.
Penalaran merupakan suatu corak atau cara seseorang mengunakan nalarnya dalam menarik kesimpulan sebelum akhirnya orang tersebut berpendapat dan mengemukakannya kepada orang lain.
Kegiatan penalaran dapat bersifat ilmiah dan non ilmiah. Dari prosesnya, penalaran dapat dibedakan sebagai penalaran induktif dan deduktif.
1.      Penalaran Induktif
Penalaran induktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat khusus.
2.      Penalaran Deduktif
            Penalaran deduktif adalah proses penalaran    untuk  menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku khusus berdasarkan atas fakta-fakta yang  bersifat umum.
     B.     Proposisi
Suatu proses berfikir yang berusaha menghubungkan fakta yang diketahui menuju ke pada suatu kesimpulan. Proposisi dapat dibatasi sebagai pernyataan yang dapat dibuktikan kebenarannya atau dapat ditolak karena kesalahan yang terkandung di dalamnya.
Logika proposisi adalah logika yang didasarkan pada proposisi. Sebuah proposisi adalah sebuah pernyataan yang memiliki nilai kebenaran True atau False, tapi tidak keduanya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa nilai kebenaran (truth value) dari suatu proposisi adalah True (T) atau False (F)
     C.    Implikasi
Implikasi merupakan pernyataan majemuk yang terbentuk dengan merangkai pernyataan tunggal dengan rangkaian “jika terjadi sesuatu (alasan) maka terjadi sesuatu (kesimpulan)” dalan konteks ini sesuatu dapat diartikan bebagai hal sesuai dengan semesta pembicaraan. Kebenaran logisnya dapat ditinjau dari kesimpulan yang benar akan tetapi apabila alasan dan kesimpulannya salah, impilkasi tersebut benar. (Rinakdi Munir, 2008).
Implikasi telah dijelaskan bahwa pernyataan majemuk yang terdiri dari pernyataan tunggal sebagai alasan dan pernyataan tunggal sebagai kesimpulannya.
     D.    Inferensi (infere)
Menarik kesimpulan atau proses untuk menghasilkan informasi dari fakta yang diketahui.
Semua fakta yang ada, yang dihubung-hubungkan untuk membuktikan adanya sesuatu.
     E.     Evidensi
Merupakan hasil pengukuan dan pengamatan fisik yang digunakan untuk memahami suatau fenomena. 
Wujud Evidensi
evidensi berbentuk data & informasi (keterangan yang diproleh dari sumber tertentu).
     F.     Model Silogisme
Penalaran silogistk (silogisme). Silogisme (syllogism dilafalkan “sill-owe-jizzum”) memuat dua premis, atau pernyataan yang harus kita asumsikan benar, ditambah suatu konklusi. Silogisme meliputi kuantitas, sehingga menggunakan kata-kata; semua, untuk setiap, ada, tak satupun, atau istilah-istilah sinonim lainnya. Dalam penalaran kondisional, pernyataan sering dinyatakan dengan huruf-huruf p dan q. Sedangkan, dalam silogisme menggunakan simbol-simbol tradisional A, B, dan C.
Contoh 1:        Premis 1 : Ada A adalah B.
Premis 2 : Ada B adalah C.
Konklusi : Ada A adalah C.
Apabila kita ajukan pertanyaan untuk menyatakan apakah konklusi itu benar atau salah, maka mungkin kita akan berpikir sejenak, untuk menentukan “contoh nyata” manakah yang dapat menggantikan A, B, dan C sedemikian sehingga 3 konklusi itu menjadi benar. Perlu diingat bahwa, konklusi dari suatu silogisme hanya benar saja atau salah saja, namun kadang-kadang bisa saja tidak dapat mengatakannya benar atau salah. Dengan demikian, untuk Contoh 1 kita tidak dapat mengatakan benar atau salah.
Silogisme Negatif
Ciri silogisme negatif yaitu ada kata bukan atau tidak
Contoh:
PU       : Siswa yang baik selalu mengerjakan pekerjaan rumah
PK       : Dadang Bukan Siswa yang baik
S          : Dadang tidak mengerjakan pekerjaan rumah
Silogisme Hipotesis
Silogisme hipotetis adalah silogisme yang memiliki premis mayor berupa proposisi hipotetis (jika), sementara premis minor dan kesimpulannya berupa proposisi kategoris.
Contoh:
            PU       : Jika hari ini tidak hujan, saya datang ke rumahmu
            PK       : Hari ini hujan
            S          : Saya tidak datang ke rumahmu
Silogisme Alternatif
Silogisme alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Kesimpulannya akan menolak alternatif yang lain. 
Contoh
                        PU       : Bams berada di Bandung atau Cirebon
                                    PK       : Bams berada di Amerika
                                    K         : Bams tidak berada di Cirebon
     G.    Entimen
Suatu silogisme yang tidak mempunyai premis mayor karena premis mayor itu sudah diketahui secara umum, yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.
Rumus:
            C=B karena C=A
Contoh
PU:      Semua siswa SMAN 1 Indramayu masuk      di universitas favorit yang mereka      impikan. (Semua A=B)
            PK: Boim Siswa SMAN 1 Indramayu (C=A)
            K  : Boim masuk universitas favorit (C=B)
Bentuk Entimennya:
            Boim masuk universitas favorit yang ia impikan karena  ia siswa SMAN 1 Indramayu. (C=B Karena C=A)

REFERENSI

LOGIKA INFORMAL: PENGEMBANGAN PENALARAN LOGIS C. Jacob
Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA UPI
Jl. DR. Setiabudhi 229, Bandung 40154

VARIASI MODEL SILOGISME UNTUK PENGAMBILAN KESIMPULAN DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR

Elly’s Mersina Mursidik Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP PGRI Madiun

0 komentar:

Posting Komentar

 

BLOGY IMAJINATIONS Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review